Langsung ke konten utama

Brahim dan Panenka

 Final piala Africa 2026 antara Maroko dan Senegal menyuguhkan banyak kontroversi, di antaranya adalah panenka gagal Brahim Diaz dan handuk kiper Senegal Edouard Mendy, insiden terakhir bahkan hampir menyulut perkelahian antara pemain kedua klub. Brahim yang tampil memukau sepanjang perhelatan turnamen


menjadi pesakitan di final ketika panenkanya di menit 8 tambahan waktu babak kedua berhasil digagalkan oleh Edouard Mendy terlihat penyesalan yang begitu besar di wajah pemain yang lahir di Spanyol tersebut.

Brahim lahir di Malaga kota di Spanyol pinggiran laut, ibunya seorang Malaga asli dan ayahnya seorang yang memiliki darah Maroko. Brahim yang hampir seluruh karir sepakbola mudanya bermain untuk timnas Spanyol dibanding Maroko  akhirnya memilih untuk membela Spanyol, ia bahkan sempat membuat statement “ Aku adalah 100 percent Spanyol dan 100 percent Maroko”. Pemain yang besar dari futsal ini memiliki skill yang luar biasa ketika berada di posisi yang tepat,dari Real Madrid hingga Manchester City bahkan Ac Milan ia mampu bersinar kala membela klub-klub tersebut.

Brahim bukan orang pertama dalam dunia sepakbola yang  di kecam saat mengambil keputusan yang berani ketika berada di saat genting, kita semua teringat dengan sebuah kalimat “kala seorang pria mati berdiri” kalimat tersebut merujuk pada Roberto Baggio ketika pinaltinya mengarah ke atas gawang Tavarrel pada piala dunia 1994, itu membuatnya dikecam habis oleh publik Italia saat itu. Nasib sama juga terjadi pada seorang putra Malaga Brahim Diaz, semoga peristiwa ini dapat membuat ia menjadi lebih baik di masa depan.

Kehidupan keras di Malaga sebagai seorang pemain keturunan membuat mentalnya terlatih, meskipun sempat berpindah-pindah klub hal tersebut tidak banyak mempengaruhi performanya di lapangan, di timnas Maroko ia menjadi andalan di lini serang, bermain di belakang striker ia diberi kebebasan untuk berkreatifitas oleh pelatih timnas Maroko Walid Regragui yang mengusung pola 4-1-4-1 yang membuat ia tampil begitu gemilang di ajang terakhir mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joaquin Sanchez

23 tahun memiliki karir sepakbola yang cemerlang dan 15 tahun berseragam Real Betis memberikan dua gelar Copa Del Rey merupakan gambaran singkat karir sang pangeran Joquin Sanchez.pada tahun 1997 bergabung dengan Betis klub pertama yang memberikan jalan untuk karir pesepakbolanya sebagai seorang pemain professional. 2006 ia hijrah ke Valencia, banyak pihak menilai kepindahanya ke Valencia merupakan pilihan buruk pada karirnya, karena persaingan yang ketat di tim Valencia era itu hal itu diramalkan dapat membunuh imagenya sebagai pemain muda potensial saat itu. Joaquin merupakan identitas dari Spanyol memiliki karir sepakbola yang cukup panjang ia adalah salah satu dari sekian banyak pemain Spanyol yang memiliki karakter yang luar biasa. Ketika membela beberapa tim diluar Spanyol ia selalu berhasrat untuk kembali ke Real Betis tim yang berhasil mengasah talentanya. Di timnas Spanyol ia berhasil mencatatkan 51 caps hal yang sangat sulit dicapai karena kita tahu bahwa timnas Spanyol merup...

Inverted winger

 Dalam sepak bola modern tentu kita tidak asing lagi dengan istilah inverted wing, Arjen Robben dan Ivan Perisic merupakan contoh dari banyak pemain yang berkarakter inverted wing. Inverted wing memiliki pengertian pemain yang bermain di posisi berlawanan dengan kaki terbaiknya. Hal ini merupakan proses dari berkembangnya sepak bola, inverted winger sangat berbeda dengan traditional winger dimana seperti kita tahu bahwa pada era sepak bola dahulu, posisi winger dipilih berdasarkan kaki terkuat agar dapat melakukan umpan terukur kepada striker, inverted winger merupakan pilihan yang lebih dinamis dan sulit ditebak oleh lawan. Hal yang sama tidak dimungkinkan untuk seorang bek sayap karena idealnya seorang bek sayap ditempatkan berdasarkan kaki yang terkuat. Apabila inverted wing di terapkan pada seorang bek maka yang terjadi ia harus memutar tubuhnya untk menggapai lawan dengan kaki terkuatnya hal ini tentunya memudahkan lawan untuk melewati bek tersebut. Seorang inverted winger har...

Iran dan Amerika dalam sebuah pertandingan

Musuh bebuyutan itulah kalimat yang pantas disematkan kepada dua negara Iran dan Amerika. Dua negara yang memiliki sejarah konflik berkepanjangan hingga pada tahun 1980 memutuskan semua hubungan diplomasi secara resmi antara kedua negara dan pada tahun 1998 dalam piala dunia berada dalam satu grup dan harus bertemu satu sama lain. Di Lyon kala itu 21 juni 1998 seisi kota terasa begitu panas jelang laga tersebut, AS yang kala itu dinunggulkan karena memiliki peringkat FIFA lebih baik dibandingkan Iran merasa diatas angin menghadapi laga tersebut. Tergabung dalam grup F bersama Jerman dan Yugoslavia laga yang lain terasa tak begitu penting bagi kedua klub laga terpenting adalah dimana mereka saling bertemu dan sama-sama mempertahankan harga diri mereka di atas lapangan hijau. Iran mengandalkan pemain-pemain seperti Hamid Estili, Ali Daei dan Mehdi Mahdavikia sedangkan USA mengandalkan pemain seperti Casey Keller dan sang pencetak gol Bryan Mcbride dan Claudio Reyna. Hasil yang tak pernah...