Langsung ke konten utama

Postingan

 Final piala Africa 2026 antara Maroko dan Senegal menyuguhkan banyak kontroversi, di antaranya adalah panenka gagal Brahim Diaz dan handuk kiper Senegal Edouard Mendy, insiden terakhir bahkan hampir menyulut perkelahian antara pemain kedua klub. Brahim yang tampil memukau sepanjang perhelatan turnamen menjadi antiklimaks di final ketika panenkanya di menit 8 tambahan waktu babak kedua berhasil digagalkan oleh Edouard Mendy terlihat penyesalan yang begitu besar di wajah pemain yang lahir di Spanyol tersebut. Brahim lahir di Malaga kota di Spanyol pinggiran laut, ibunya seorang Malaga asli dan ayahnya seorang yang memiliko darah Maroko. Brahim yang hampir seluruh karir sepakbola mudanya bermain untuk timnas Spanyol akhirnya memilih untuk membela Spanyol, ia bahkan sempat membuat statement “ Aku adalah 100 percent Sapnyol dan 100 percent Maroko”. Pemain yang besar dari futsal ini memiliki skill yang luar biasa ketika berada di posisi yang tepat dari Real Madrid hingga Manchester City...
Postingan terbaru

Chavalier the warrior

 Merupakan lulusan youth academy Lille Chevalier merupakan goalkeeper ketiga ketika Lille menjuarai liga Prancis di musim 2020- 2021 ketika itu ia masih berusia sangat mudah hampir menginjak 20 tahun. Sempat membela tim Vallenciennes di Ligue-2 kala itu Chevalier berhasil menunjukan performa apik dan bakat briliannya menjadi seorang kiper masa depan Prancis. Pada musim 2024 ia menjalani salah satu laga terbaiknya kala bersua Real Madrid di liga Champions kala itu ia berhasil membawa Lille menang 1-0 atas Real Madrid di stadion Pierre Mauroy. Perawakannya yang tenang ketika menahan serangan lawan dan responnya yang cukup bagus membawanya ke puncak karir yakni menjadi punggawa tim terbesar di Prancis yaitu PSG. PSG menebusnya dari Lille dengan nilai yang baik 40 juta euro. Dalam beberapa pertandingan terakhir di musim ini ia mengalami inkonsistensi yang berakibat ia kalah bersaing dengan kiper muda PSG lainnha yakni Safonov akan tetapi respon dari Chevalier sendiri cukup dewasa. Dala...

Sir Becks

 Berparas tampan elegant dilapangan, menjadi trendsetter untuk seluruh brand fashion di dunia, memiliki tendangan bebas yang indah dan presisi, siapa lagi kalo bukan one and only David Robert Joshep Beckham atau lebih dikenal sebagai David Beckham. Awalnya memang banyak yang meragukan pria yang lahir dan besar di London ini karena perawakannya yang kecil akan tetapi ia mampu membuktikan bahwa ia tumbuh besar dengan potensi luar biasa untuk menjadi seorang Mega bintang. Pria yang merupakan jebolan academy Manchester United ini memulai karirnya di timnas sejak bermain untuk timnas Inggris u 18 dan U 21 dan akhirnya pada tahun 1996 ia berhasil membela timnas senior Inggris. Tak hanya dalam lapangan Beckham memiliki karir yang cukup gemilang tentang karirnya di luar lapangan. Karir sebagai pemain film dan modelnya pun cukup luar biasa. Semua brand mode ternama mengontraknya dengan nilai fantastis, dari Adidas hingga menjadi ambassador brand mobil ternama asal Italia Maserati sukses dil...

J league pencetak berlian Jepang

Pada tahun 1993 Jepang membentuk liga sepak bola pertama mereka yang bertajuk Meiji Yasuda J league tergolong terlalu muda di bandingkan dengan kompetisi-kompetisi liga sepakbola dunia. Bahkan kompetisi J 3 atau divisi 3 mereka baru menuju profesional di tahun 2013, pengembangan yang cukup lambat akan tetapi sangat berdampak bahkan di era ini mereka boleh dikatakan sebagai kompetisi liga terbaik di Asia. Sebelum bertransformasi menjadi JLeague kompetisi resmi sepak bola mereka sudah ada sejak tahun 1960 an kompetisi tersebut bernama Japan Soccer League. J league banyak memproduksi pemain- pemain berkualitas sebut saja sejak dulu dari kompetisi domestik mereka lahir talenta seperti Wagner Lopes dan Matsanobu Matsunami di era selanjutnya muncul nama-nama seperti Sinji Ono dan Hidetoshi Nakata. J league bukan hanya sebatas hiburan bagi rakyat Jepang akan tetapi merupakan media bagi sebagian besar masyarakat Jepang untuk bersaing dan mengenalkan budaya mereka ke seluruh dunia dengan kualit...

Sayap itu bernama Giacinto Facchetti

 Mungkin ketika mendengar istilah one man one club di serie a dibenak kita hanya terlintas satu nama Francesco Totti dan beberapa pemain lainnya, tapi untuk para fans inter nama Giacinto Facchetti selalu menjadi terdepan ketika mendengar hal tersebut. Berhasil memenangkan 4 gelar serie A bersama Inter Milan makin menguatkan dirinya sebagai legenda sepanjang masa Inter Milan yang tidak pernah sekalipun membela klub lain selain Inter Milan. Di masanya dia merupakan seorang bek dengan postur yang sangat ideal dan memiliki kecepatan luar biasa ia bahkan berhasil mencetak 75 goal selama berseragam Inter Milan jumlah gol yang luar biasa untuk seorang fullback. Hal lain yang paling diingat dari seorang Facchetti adalah ketika di Euro 1968 kala itu ia sebagai Kapten berhasil membawa Gli Azzuri mencapai semifinal dan kala itu hasil pertandingan ditentukan oleh koin toss dan benar saja Facchetti yang kala itu merupakan kapten kemudian lari berteriak karena mereka berhasil mencapai final sete...

Si penyihir Mastantuono

Nomor 10 di Argentina merupakan nomor yang keramat, tidak sembarang orang bisa menggunakan nomor tersebut. Mulai dari Mario Kempes, Maradona hingga Lionel Messi semuanya merupakan pemain yang mampu membawa Argentina menjadi juara piala dunia di masing-masing eranya. Kini muncul pertanyaan siapa yang layak menggunakan nomor 10 ketika Lionel Messi berada di penghujung karirnya yang gemilang?  Banyak pihak menilai bahwa satu-satunya pemain yang sangat layak menggunakan nomor 10 setelah Lionel Messi adalah Franco Mastantuono pemain yang lahir di kota Azul Argentina, tak henti-hentinya menunjukan permainan impresif dan eksplosiv kala membela Real Madrid, baru berusia 18 tahun akan tetapi memiliki permainan ciamik nan dewasa diatas lapangan. Tumbuh besar di Akademi River Plate membuat ia menjadi pemain yang menonjol, baru berusia 17 tahun ia berhasil mencatatkan 6 penampilan dan mengukir 2 gol di copa Libertadores kala itu catatan impresif dari bocah berusia 17 tahun, tak hanya itu ia ke...

Sepak bola modern dengan sentuhan klasik

 Di era sekarang taktik-taktik klasik atau formasi klasik mulai digunakan kembali pola tiga bek dan dua striker setelah diera 2010 an mulai di tinggalkan atau ketika era Tiki Taka Barcelona formasi-formasi tersebut di tinggalkan kini mulai digunakan kembali, akan tetapi penggunaanya di beri sentuhan sepakbola modern. Maksud dari sentuhan modern adalah dimana taktik-taktik tersebut begitu statis semua yang dulunya pemain tidak bisa melakukan kreativitas berdasarkan posisi mereka hal tersebut sekarang sudah berubah, dimana kini semua pemain diharuskan untuk bermain lebih dinamis tidak terpaku pada posisi mereka. Contoh kongkrit sepakbola modern adalah Inter Milan di bawah asuhan Simeone dan Man.City dibawah asuhan Pep Guardiola. Inter Milan menggunakan tiga bek di belakang dimana tiga bek tersebut di beri opsi untuk merangsek masuk hingga ke depan, sama halnya dengan Man.City semua pemain diberi instruksi untuk berganti peran di lapangan tak pelak taktik ini kerap kali di adopsi tim ...